Perintah Bos : Lo Buat Jalan Supaya Bisa Jualan Miras Di Tempat Lo
Cerpen, alineasatu.net – Suatu ketika, usai pemilihan Pejabat di sebuah Kota terpencil yang kaya kandungan Alam. Di Kota tersebut terdapat sebuah tambang Logam Raksasa. Para pekerja tambang dihuni oleh berbagai jenis Suku, Ras dan Agama. Di kota tersebut kental dengan Ideologi Agama tertentu. Makanan dan minuman yang diperjualbelikan semuanya berlabel Halal dari keyakinan tertentu, meski ada yang Haram itu dijual dengan cara Kucing-kucingan (Sembunyi – sembunyi. Red).
Datanglah seorang Bos Miras dari Kota lain, dan di Kota tersebut Miras adalah minuman yang Halal di Kota mereka. Ia datang mengunjungi Kota yang kaya kandungan Alam itu. Disana Bos tidak berpikir untuk mau berbisnis Logam, ataupun tanam Saham. Melainkan bagaimana cara menjual Miras kepada Karyawan tambang tanpa harus Kucing-kucingan.

Singkat cerita, seorang Bos Miras ini mencari celah supaya bisa menjual Miras dengan cara Legal meski itu Haram. Salah satu caranya, meminta Pejabat kota setempat membuat jalan supaya minuman Haram bisa Legal diperjual belikan.
Sebagai pebisnis ulung, dengan relasi yang begitu banyak, Bos Miras memanfaatkan aturan Kota, supaya ada jalan menjual Miras. Ditemui beberapa Pejabat yang bisa mengatur membuat jalan aturan. Memasukan kepentingan Pendapatan, rangsang Wisatawan, hingga dibahasakan menghargai Keyakinan Agama lain. Semua itu untuk mempengaruhi Masyarakat setempat.
Dari pendekatan dan penyampaian tersebut oleh Pejabat kepada Masyarakat. Pro kontra pendapat Masyarakat mulai terbangun. Ada yang beridealis terhadap perbedaan, ada pula yang bertahan atas dasar Keyakinan.

Atas perintah Bos Miras, Pejabat tidak kalah akal, mereka meyakinkan Masyarakat dengan cara penjualan sifatnya teratur dan terukur. “Mulai masuk akal bulus pikiran setan, Haram tetap Haram, sebab Legal tidak bisa merubah hukum Haram, yang merasa berkeyakinan bahwa Miras itu Haram tidak perlu membeli atau konsumsi,” kata Pejabat meyakinkan Masyarakat
Propaganda mulai meluas, logika digunakan tanpa ada pertimbangan Iman. Bos Miras mulai tersenyum melihat kinerja sang Pejabat. Perlawanan oleh kalangan Teologis mulai terdengar, padahal itu sengaja dilakukan Pejabat untuk mendapatkan kesimpulan seberapa banyak yang merespon soal jalan sesat pelegalan Miras.
Strategi selanjutnya mulai dirancang Pejabat, “Jangan buka tempat penjualan secara umum, batasi beberapa tempat saja dulu, asal kita ada jalan?,” ucap Pejabat bersiasat.

Pemetaan pola tempat penjualan mulai di konsepkan, strategi uji publik sudah Grasak-grusuk, lembaga yang akan digunakan mulai diracuni dengan nikmatnya Miras. “Ini perintah Bos” ungkap Pejabat kepada Lembaga yang akan melakukan uji Publik.
Ucapan Bos dengan Pejabat pembuat jalan. “Selangkah lagi tugasmu selesai. Akan ku hidangkan makanan enak untukmu”. Kata Bos Miras. (A1)
Bos dan Pejabat adalah anonim, cerita ini disampaikan sebagai bahan antisipasi. Semoga bermakna.
Oleh : Ardianto, Pembaca Novel Miras, dari Sumbawa Barat.
